Pelayanan
Prima Dalam Peningkatan Manajemen Kesehatan
di
Puskesmas

Oleh
Adrian Kasela
0120740005
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA - PAPUA
2013
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur Saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada Saya sehingga bisa menyusun makalah ini Dengan
Judul “Pelayanan Prima Dalam Peningkatan
Manajemen Kesehatan di Puskesmas”
Sebagai penyusun makalah ini menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna.oleh karena itu, kritik dan saran yang ada
relevansinya dengan penyempurnaan makalah ini sangat Saya harapkan dari
pembaca. Kritik dan saran sekecil apapun akan Kami perhatikan dan pertimbangkan
guna perbaikan di masa datang.
Pada kesempatan ini Saya mengucapkan banyak terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga
makalah ini mampu memberikan manfaat dan mampu memberikan nilai tambah kepada
para pemakainya.
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL……………………………………………………… i
KATA
PENGANTAR……………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI……………………………………………………………... iii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………. 2
1.3 Tujuan………………………………………………………... 2
1.4 Manfaat………………………………………………………. 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
BAB
III PEMBAHASAN
3.1 Konsep manajemen Pemasaran……………………………….. 5
3.2 Manajemen Pemasaran Puskesmas………………………….. 5
3.3 Alasan diperlukannya Pemasaran
Puskesmas…………………. 7
3.4 Implementasi Manajemen Pemasaran
Puskesmas……………. 8
3.5 Membangun Citra (Image) Terhadap
Puskesmas……………. 10
3.6 Pelayanan Prima
Puskesmas……………………….………… 12
BAB
IV PENUTUP
4.1 Simpulan…………………………………………………….. 14
4.2 Saran…………………………………………………………. 14
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan
daerah, yang telah direvisi melalui UU No. 32 tahun 2004, dan UU No. 25 tahun
1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang telah
disempurnakan dengan UU No. 33 tahun 2004, menandai pergeseran pola manajemen
pemerintahan dari sentralistik eksploitatif ke desentralistik-partisipatif, menuntut
kepada pemerintah daerah untuk meninjau ulang segala bentuk peraturan
pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat termasuk kesehatan. Pemda sekarang ini dituntut
harus mampu melayani masyarakat. Mereka dituntut
untuk mentransformasi diri dari bureuaucraticmonopolistic government menjadi
entrepreneurial government (Buchari Alma, 2005) yaitu pemerintah memanfaatkan
peluang yang muncul dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya Pemerintah
Daerah melalui puskesmasnya dituntut untuk menjadi ’customer-driven
government” yang sangat memperhatikan needs dan wantsmasyarakatnya,
yang menekankan segi layanan yang memuaskan, jika mungkin melalui layanan
prima. Puskesmas harus fokus pada marketing concept ketimbang pada selling
concept. Otonomi daerah mengundang adanya kompetisi antar daerah untuk
memajukan daerahnya masingmasing, menggali sumber penghasilan yang layak mencari
sumber-sumber yang layak jual. Konsep pemasaran daerah harus menjadi pemikiran
semua pihak pegawai pemerintah, sebelum mereka didahului oleh kompetitornya
dari daerah lain. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan milik pemerintah,
sudah saatnya memikirkan strategi untuk melakukan pemasaran produk jasanya
yangberupa jasa pelayanan kesehatan. Sementara pihak menganggap bahwa puskesmas
milik pemerintah tidak perlu melakukan upaya pemasaran, karena sebagian
menganggap bahwa masyarakatlah yang membutuhkan puskesmas, bukan puskesmas membutuhkan
masyarakat. Walaupun trias fungsi puskesmas yang meliputi pusat pengembangan, pemberdayaan
masyarakat dan pelayanan bidang kesehatan, bukan berarti puskesmas sebagai birokrat,
tetapi lebih fokus pada memenuhi kebutuhan Implementasi Manajemen
Pemasaran (Ristrini) masyarakat terhadap kesehatan yang memuaskan. Pemenuhan kebutuhan
kesehatan yang memuaskan bagi konsumennya (masyarakat) identik dengan konsep
pemasaran yang berkembang dewasa ini. Untuk itu, sudah saatnya upaya
pengembangan puskesmas pada era otonomi daerah sekarang ini, harus lebih
mengacu pada konsep-konsep pemasaran jasa sehingga citra (image)
puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan yang ’kurang bermutu’ dan sebagai
unit pelayanan kesehatan bagi orang miskin, secara perlahan-lahan akan hilang
di masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
1)
Apa
Konsep Manajemen Pemasaran?
2)
Bagaimana
Manajemen Pemasaran Puskesmas?
3)
Apa
Alasan diperlukannya Pemasaran Puskesmas?
4)
Bagaimana
Implementasi Manajemen Pemasaran Puskesmas?
5)
Bagaimana
Membangun Citra (Image) Terhadap Puskesmas?
6)
Bagaimana
Pelayanan Prima Puskesmas?
1.3 Tujuan
1)
Menjelaskan
Konsep Manajemen Pemasaran.
2)
Menjelaskan
Manajemen Pemasaran Puskesmas.
3)
Menjelaskan
Alasan diperlukannya Pemasaran Puskesmas.
4)
Menjelaskan
Implementasi Manajemen Pemasaran Puskesmas.
5)
Menjelaskan
bagaimana Membangun citra Terhadap Puskesmas.
6)
Menjelaskan
Pelayanan Prima Puskesmas.
1.4 Manfaat
1)
Untuk
Mengetahui Konsep Manajemen Pemasaran.
2)
Untuk
Mengetahui Manajemen Pemasaran Puskesmas.
3)
Untuk
Mengetahui Alasan diperlukannya Pemasaran Puskesmas.
4)
Untuk
Mengetahui Implementasi Manajemen Pemasaran Puskesmas.
5)
Untuk
Mengetahui bagaimana Membangun citra Terhadap Puskesmas.
6)
Untuk
Mengetahui Pelayanan Prima Puskesmas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Puskesmas adalah unit
kesehatan yang mempunyai tugas pokok pembinaan kesehatan masyarakat dan
pelayanan kesehatan dasar. Setiap puskesmas melayani 30.000-50.000 penduduk
atau sekurang-kurangnya 1 kecamatan mempunyai 1 puskesmas. Untuk memperluas
jangkauan pelayanan kesehatan setiap puskesmas dibantu oleh 3-4 puskesmas pembantu dan 1 puskesmas keliling (Nusantara-21, 2000). Menurut Depkes RI (2004), pada tahun 1996 jumlah puskesmas di seluruh Indonesia
adalah 7.177 unit. Jika dilihat dari tahun 1992 sampai dengan tahun 1996 terlihat
adanya peningkatan. Peningkatan yang cukup besar (16,37%) terjadi pada tahun
1993 sedangkan pada tahun selanjutnya peningkatannya kecil (tahun 1994 meningkat 0,43%, tahun 1995 meningkat 1,70% dan tahun 1996 meningkat
1,01%). Di Provinsi Sumatera Utara
sendiri sampai akhir tahun 2008, jumlah sarana pelayanan kesehatan sebanyak
25.939 unit yang terdiri dari 190 unit rumah sakit, 493 unit puskesmas, 514
unit puskesmas keliling, 1.933 unit puskesmas pembantu, dan 22.809 unit sarana
kesehatan lain yakni balai pengobatan/klinik, praktek dokter, polindes,
poskesdes, posyandu, apotek, pos obat desa dan pos UKK (Dinkes Sumut, 2009). Di kota Pematangsiantar, jumlah sarana kesehatan sampai sekarang ini sebanyak
286 unit yang tersebar di 8 kecamatan, yaitu : Siantar Barat, Siantar Marihat,
Siantar Martoba, Siantar Selatan, Siantar Timur, Siantar Utara, Siantar
Marimbun, dan Siantar Sitalasari. Terdiri dari 7 unit rumah sakit, 19 unit
puskesmas induk, 8 unit puskesmas pembantu, 17 unit Balai Pengobatan Umum (BPU) dan 235 unit
posyandu. Dari penduduk yang berobat jalan tercatat 29,59% memanfaatkan
puskesmas dan hanya 0,15% yang
memanfaatkan rawat inap di puskesmas (Profil Kesehatan Kota Pematangsiantar,
2011). Depkes RI dalam Alfred Am Saleh (2007) mengemukakan beberapa masalah kinerja
puskesmas yang merupakan kelemahan dan perlu diatasi secara menyeluruh.
Berdasarkan buku Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi,
masalah utama adalah citra puskesmas masih kurang baik, terutama yang berkaitan
dengan mutu pelayanan, kelengkapan fasilitas serta ketersediaan obat. Menurut Kusumapradja (2006) sebesar 70%
penyebab pelanggan tidak puas terhadap pelayanan kesehatan adalah karena
perilaku manusia, untuk itu perlu dilakukan pembenahan dalam budaya organisasi
sehingga setiap tenaga kesehatan mampu melaksanakan pelayanan yang prima.
Pelayanan prima adalah memberikan kepada pelanggan apa yang memang mereka harapkan
pada saat mereka membutuhkan, dengan cara yang mereka inginkan. Pelayanan prima
ini hanya dapat dicapai dengan pelaksanaan yang mencakup komponen praktik yang
bersifat : disiplin, inisiatif, respons, komunikasi, dan kerjasama serta
berlandaskan sikap “caring” yaitu menekankan pada keteguhan hati,
kemurahan hati, janji tanggung jawab yang mempunyai kekuatan atau motivasi
untuk melakukan upaya memberi perlindungan dan meningkatkan martabat klien
(Kozier dalam Kusumapradja, 2006).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep Manajemen Pemasaran
Menurut Cooper, P.D., 1979 yang dimaksud
dengan pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk kepuasan
keinginan dan kebutuhan melalui proses penukaran. Sedangkan Levey, S. dkk, (1994)
menyatakan bahwa pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi dan
pengendalian dari program yang dirancang secara hati-hati untuk pertukaran
nilai dengan target pasar untuk mencapai tujuan organisasi. Dari definisi
tersebut dapatlah dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pemasaran merupakan proses manajemen, seperti analisis,
perencanaan dan implementasi
2. Merupakan kegiatan yang mengikuti permintaan, bukan ditebak
3. Adanya pertukaran nilai, berarti adanya saling menguntungkan
4. Adanya target pasar, berarti adanya sasaran yang jelas
5. Mengutamakan permintaan pasar, artinya sesuai dengan kebutuhan
konsumen
6. Kegiatan penentuan harga, dan komunikasi yang efektif
Menurut Cooper, (1979) terdapat 4 konsep dalam pemasaran yaitu:
1. Konsep pelayanan, artinya orientasi hanya untuk memberikan
pelayanan dan fasilitas yang baik
2. Konsep penjualan, artinya orientasi hanya pada usaha untuk
mencapai pemanfaatan fasilitas
dengan memadai
3. Konsep pemasaran, artinya orientasi berusaha untuk mengetahui
keinginan dan kebutuhan pasien serta menciptakan pelayanan yang memuaskan
4. Konsep pemasaran sosial artinya orientasi pada usaha untuk
memenuhi kebutuhan, keinginan
dan permintaan konsumen serta memberikan kepuasan.
3.2 Manajemen Pemasaran Puskesmas
Lovelook and Weinberg (1978) dalam
bukunya menyatakan bahwa agar konsep pemasaran diterima dan dioperasionalkan
oleh suatu lembaga pemerintahtermasuk puskesmas, maka harus dilakukan pemasaran
dalam ilmu pemasaran itu sendiri, yang mencakup 2 (dua) hal:
1. Harus dibuktikan bahwa pengetahuan pemasaran dapat dilaksanakan
pada situasi yang mereka
Hadapi situations)
2. Pimpinan lembaga pemerintah termasuk puskesmas harus dididik
untuk mengakui betapa luas dan kompleknya ilmu pemasaran itu (government
manager must be educates to recognize the scope and complexity of
marketing). Langkah awal yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan
manajemen pemasaran puskesmas adalah meyakinkan pada staf puskesmas bahwa pemasaran
puskesmas itu diperlukan, khususnya pada era otonomi sekarang ini. Pasien akan
tertarik berkunjung ke puskesmas di daerah lain, bila puskesmas tersebut tidak
menampilkan performa yang dibutuhkan pasien. Pimpinan dan staf puskesmas harus ’committed’
bahwa pemasaran jasa puskesmas harus dilakukan dan terus berupayauntuk mengembangkan
diri dalam bidang pemasaran puskesmas. Dalam manajemen pemasaran dikenal dengan
2 (dua) bentuk orientasi yaitu ’selling orientation’ dan ’marketing
orientation’. Puskesmas yang selling orientation, sering kali
bersifat birokratis, dan fungsi unit-unit di puskesmas sering ditandai oleh
alokasi anggaran kegiatan, tidak peduli dengan keinginan masyarakat yang mereka
layani, mereka tidak mempunyai pandangan jauh ke depan. Sedangkan puskesmas
yang marketing orientation, sangat memperhatikan kehendak masyarakat,
semua unit di puskesmas harus berorientasi pada pasien dan masyarakat, penuh
dedikasi, selalu tanggap pada keinginan masyarakat, dan ada keinginan petugas puskesmas
untuk meningkatkan layanan baik diminta ataupun tidak. Ada kerja sama yang baik
antar bagian, tidak saling bersaing antarbagian, tidak saling mempersulit
urusan sehingga yang menanggung Buletin
Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 12 No. 4 Oktober 2009: 418–423 masyarakat. Staf puskesmas yang berorientasi pada selling selalu
mengatakan bahwa kegiatan mereka ialah program kerja, target atau jasa yang
ditawarkan, sedangkan staf puskesmas yang berorientasi pada marketing menyatakan
bahwa kegiatan mereka ialah kepuasan pasien dan masyarakat. Kesulitan yang
dihadapi adalah bagaimana merubah mental pegawai agar mereka betul-betulsenang
dan memperhatikan kebutuhan masyarakat. Mereka harus mampu memberi informasi
tentang peraturan yang berlaku, kegiatan yang mereka kerjakan, manfaat yang
akan diperoleh masyarakat, dan sebagainya. Dikemukakan oleh Buchari Alma (2005)
bahwa setiap anggota masyarakat sudah mengeluarkan uang, menghabiskan waktu dan
energi untuk memperoleh layanan dan mendapatkan kepuasan, bukan sekedar
memperoleh pengobatan saja (Citizens don’t buy programs or services, they
Dengan marketing intelligence diperlukan 2 komponen utama
(Cooper, 1979) yaitu:
a. Need assessment, yaitu penilaian kebutuhan, sehingga
ditemukan konsumen potensial, dengan layanan ideal
b. Environment analysis, ini perlu agar dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam strategi marketing yang akan dibuat. Dua
komponen tersebut diperlukan agar layanan puskesmas yang disediakan memenuhi
kebutuhan masyarakat yang dilayani, dengan memperhatikan lingkungan kerja yang
masing-masing puskesmas akan berbeda sehingga penentuan strategi pemasarannyapun
juga akan berbeda.
3.3 Alasan Diperlukannya Pemasaran Puskesmas
Dalam SK Menkes No.
128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas menyatakan bahwa
puskesmas sesuai dengan fungsinya, merupakan pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan
strata pertama. Terdapat beberapa alasan sehingga diperlukan pemasaran
puskesmas, yaitu:
1. Meningkatnya biaya khususnya untuk biaya bahan, peralatan dan biaya
pegawai
2. Meningkatnya kesadaran pasien, sehingga pasien selalu menuntut
hak dan informasi yang jelas tentang segala tindakan yang akan diambil
3. Berorientasi pada pasien, artinya segala konsekuensi dari
tindakan selalu berorientasi kepada penyelamatan jiwa pasien
4. Pemanfaatan yang rendah merupakan suatu pemborosan, karena akan
banyak alat dan obat yang tidak termanfaatkan dan rusak
5. Peningkatan profesionalisme dari staf puskesmas, sehingga para
profesional tersebut perlu dikoordinasi dan diarahkan untuk kepentingan pasien
dan masyarakat
6. Perubahan hubungan antara dokter/provider dengan pasien,
artinya pasien lebih aktif dan lebih membutuhkan informasi serta menginginkan kebebasan
memilih
7. Perhatian pada pencegahan, kegiatan pencegahan yang hasilnya
tidak segera dapat dilihat, sehingga memerlukan upaya agar masyarakat mau menerimanya
8. Meningkatnya harapan akan kenyamanan, karena pasien tidak hanya
butuh pelayanan yang baik, tetapi juga pelayanan yang nyaman
9. Pelayanan kesehatan merupakan komoditi bisnis, artinya bahwa
tambahan kenyamanan dalam
pelayanan harus dibayar lebih mahal adalah logis.
3.4 Implementasi Manajemen Pemasaran Puskesmas
Ada beberapa langkah yang harus
dilakukan dalam implementasi manajemen pemasaran di puskesmas yang meliputi:
1. Perencanaan pemasaran puskesmas Perencanaan pemasaran puskesmas
diawali dengan menentukan tujuan dan kebijakan dari tingkat Dinas Kesehatan dan
pimpinan puskesmas. Kebijakan terutama untuk memperoleh dukungan atas semua
pihak dapat melaksanakan pemasaran secara menyeluruh. Perencanaan pelayanan
kesehatan puskesmas yang serasi dengan pelaksanaan medis sangat penting, karena
pelayanan yang baik, memuaskan dan nyaman akan merupakan promosi tersendiri. Perencanaan
dari bauran pemasaran perlu dirancang dengan seksama dan dibuat dokumentasi
untuk memudahkan pengendalian Implementasi
Manajemen Pemasaran (Ristrini) dikemudian hari.
Sangat penting untuk diusahakan agar perencanaan yang dibuat dapat dimengerti dan
nantinya dapat dilaksanakan oleh seluruh karyawan puskesmas.
2. Pengorganisasian pemasaran puskesmas Pengorganisasian meliputi
penentuan organisasi pemasaran di puskesmas dan bertanggung jawab. Pengaturan
pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah yang timbul, juga harus menjadi
jelas, dan tugas pemasaran dalam hubungannya dengan pembinaan pemasaran harus
diketahui oleh semua karyawan
3. Pelaksanaan pemasaran puskesmas Pelaksanaan pemasaran harus
melaksanakan bauran pemasaran yang telah direncanakan sebaik mungkin. Pemecahan
masalah yang timbul harus ditanggulangi dengan seksama seperti konflik
kepentingan antar karyawan. Latihan yang membantu peningkatan perilaku karyawan
juga penting dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan. Dukungan
administrasi terhadap pelaksanaan juga penting, apalagi bila tiap pelaksanaan
dapat didukung oleh hasil penelitian yang memadai. Pelaksanaan pemasaran juga
tidak hanya yang rutin saja, tetapi berusaha mengadakan pengembangan kegiatan
pemasaran seperti peningkatan keindahan ruang periksa dan sebagainya.
4. Pengendalian pemasaran puskesmas
Terdapat 5 (lima) hal yang harus dikendalikan dalam rangka
pemasaran puskesmas yaitu:
(1) pencapaian tujuan puskesmas secara kuantitatif,
(2) perhitungan apa yang direncanakan dan apa yang dicapai,
(3) penilaian perbedaan yang terjadi,
(4) penentuan penyebab dan tindakan koreksi, dan
(5) kemungkinan perubahan tujuan.
Beberapa hal yang dapat dipakai sebagai cara untuk melakukan
pengendalian pemasaran di puskesmas adalah:
(a) Tanggapan umum dari pasien dan masyarakat, yang harus diamati
dan diperhitungkan berapa
banyak yang terjadi dan bagaimana bobotnya
(b) Pangsa pasar puskesmas, merupakan gambaran seberapa jauh
kontribusi yang dapat dilakukan puskesmas, di mana gambaran ini menunjukkan berapa
jumlah pasien yang dapat kita layani bila dibandingkan dengan keseluruhan
pasien di suatu daerah
(c) Nilai usaha pemasaran, yang memperhitungkan berapa rupiah
biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran dibandingkan dengan hasil yang diperoleh
(d) Rasio penampilan, yang mengukur berapa persen biaya pemasaran
dibandingkan dengan biaya keseluruhan
(e) Sikap terhadap pemasaran, yang dapat dilakukan melalui
penelitian terhadap pasien, yaitu penilaian pasien terhadap sikap dokter dan
karyawan mendukung terhadap upaya pemasaran.
3.5 Membangun Citra ( Image) Terhadap Puskesmas
Para konsumen membeli sesuatu, bukan
hanya sekedar membutuhkan barang itu, akan tetapi ada sesuatu yang lain yang
diharapkannya. Sesuatu yang lain sesuai dengan citra yang terbentuk pada
dirinya. Oleh sebab itu penting sekali puskesmas member informasi kepada
masyarakat agar dapat membentuk citra yang baik. Levitt (1983) menyatakan
bahwa: "the marketing imagination is the starting point of
success in marketing". Citra atau ‘image’ ini tidak
dapat dicetak seperti membuat barang di pabrik, akan tetapi citra ini adalah kesan
yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang
sesuatu. Citra merupakan kesan, impresi, perasaan, atau konsepsi yang ada pada
masyarakat mengenai puskesmas. Jadi ‘image’ puskesmas dibentuk
berdasarkan impresi, berdasarkan pengalaman yang dialami seseorang terhadap
puskesmas, sehingga akhirnya dipakai sebagai pertimbangan untuk mengambil
keputusan, berobat ke puskesmas atau tidak, karena ’image’ dianggap
mewakili totalitas pengetahuan seseorang terhadap sesuatu.
Beberapa variabel yang menimbulkan ’image’ masyarakat
terhadap puskesmas:
a. Tenaga kesehatan
Layanan yang merupakan produk yang
dihasilkan puskesmas sangat dipengaruhi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan
professional dalam bidangnya serta memberikan layanan langsung kepada
pasiennya. Tenaga kesehatan akan tertarik bekerja di puskesmas, jika mereka merasa
mendapat penghargaan baik imbalan secara materiil maupun suasana yang menunjang
pengembangan karier mereka. Dalam bauran Buletin
Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 12 No. 4 Oktober 2009: 418–423 pemasaran merupakan unsur ’people’, yang berupa sikap dan
keramahan, sopan santun, ramah, senyum, ada perhatian, kesabaran, memiliki
pengetahuan yang cukup, ahli, ketepatan, sebagainya. Dan Steinhoff (1979)
mengatakan bahwa ’the raw material of services is people’, tetapi masih
banyak faktor penunjang yang lain seperti peralatan canggih, bersih, akurat,
mutakhir dan sebagainya.
b. Gedung dan Ruangan
Gedung dan komposisi ruangan juga
merupakan faktor kunci dalam pemasaran puskesmas. Gedung yang megah dan
komposisi ruangan yang baik akan membuat pasien nyaman di puskesmas. Pasien tidak
merasa bahwa mereka sedang berobat tetapi merasa seperti dirumah sendiri atau seperti
di hotel. Sekarang banyak rumah sakit yang mendesain gedung dan ruangannya
seperti di hotel mewah, karena merupakan salah satu bauran dalam pemasaran
yaitu ’physical evidence’
c. Fasilitas
Fasilitas medis yang lengkap, merupakan suatu
kebutuhan bagi puskesmas yang ingin berkembang dengan konsep pemasarannya. Kelengkapan
fasilitas non medis juga penting sehingga bukan hanya orang miskin saja yang dirawat
di puskesmas tetapi juga menarik bagi masyarakat kelompok menengah dan atas.
d. Peralatan dan Obat-obatan
Dalam konsep pelayanan prima maka
pemenuhan kebutuhan konsumen merupakan hal yang paling utama. Fokus pada
kelengkapan peralatan dan obat-obatan merupakan langkah agar unggul dalam
persaingan (competitive advantage). Konsep ’one stop shoping’ yang
dipakai dalam supermarket dapat di ’adops’ oleh puskesmas sehingga
menarik untuk dikunjungi
e. Hasil kegiatan
Dalam konsep bauran pemasaran (marketing
mix) pada jasa terdapat ’product’ yang berupa kegiatan dan
hasil layanan, merupakan hal yang paling mendasar (the most crucial
determinant) yang akan menjadi pertimbangan preferensi pilihan bagi
pasien.
f. Proses layanan
Proses layanan yang cepat, tidak
berbelit-belit, prosedur mudah, waktu menunggu yang singkat, yang diikuti oleh
tanggung jawab yang tinggi merupakan daya tarik bagi pasien untuk dating ke
puskesmas, yang dalam bauran pemasaran dikenal ’process’ Beberapa konsep
yang harus dikuasai oleh Pimpinan dan staf puskesmas dalam rangka melaksanakan
pemasaran (Buchari Alma, 2005), agar image masyarakat terhadap puskesmas
menjadi baik adalah:
1. Marketing concept: yaitu kegiatan memasarkan barang atau
jasa yang memberi kepuasan konsumen. Berilah rasa puas terhadap layanan di
puskesmas, kebersihan terjaga (disapu, dipel oleh pegawai puskesmas, bukan hanya
menempel pengumuman ”Jagalah Kebersihan”, tapi pegawainya harus aktif mengawasi
dan bertindak membersihkan. Jaga jangan sampai antrian panjang, caranya
menambah pegawai pada jam-jam sibuk. Ini bukan berarti menambah pegawai baru,
tapi intensifkan, perbantukan pegawai pada bagian lain. Berikan layanan ramah, terampil
serta informasi yang jelas sehingga tidak membuat konsumen bingung di
puskesmas.
2. Internal marketing, berikan latihan-latihan pada
karyawan puskesmas yang langsung
menghadapi consumen/pasien paling depan, agar selalu ramah, murah senyum, serta
informatif, bagaimanapun rewelnya konsumen. Tanamkan perasaan mendalam pada
karyawan, bahwa tugas utamanya adalah memberikan kepuasan kepada consumen/ pasien.
3. Interactive marketing, artinya bagaimana terjadi
interaksi yang memuaskan antara karyawan
dengan konsumen/pasien dan masyarakat, sehingga konsumen menjadi yakin. Orang
tidak begitu saja yakin kepada puskesmas yang memiliki peralatan canggih (technical
quality), tapi lebih yakin lagi pada dokter yang memperlihatkan perhatian
serius dalam mengobati pasien, sehingga meyakinkan pasien akan sembuh (functional
qualit) (Kotler, Gary, 1991). Jadi di sini merupakan interaktif marketing
antara provider dengan konsumernya.
3.6 Pelayanan Prima Puskesmas
Instruksi Menteri Kesehatan Nomor
828/MENKES/ VII/1999 tanggal 20 Juli 1999 menginstruksikan untuk melaksanakan
pelayanan prima sesuai dengan Implementasi
Manajemen Pemasaran (Ristrini) aspirasi dan reformasi
dari masyarakat melalui perbaikan pengaturan dan mekanisme dari seluruh aspek
pelayanan kesehatan yang ada. Pelayanan prima di puskesmas menyangkut beberapa
aspek yang meliputi (1) masalah ketepatan, konsistensi dan konsekuensi dari
prosedur pelayanan kesehatan yang ada, (2) adanya hak dan kewajiban pemberi dan
penerima pelayanan yang diatur secara jelas, (3) tersedianya loket informasi atau
kotak saran bagi penerima pelayanan yang dipantau dan dievaluasi, (4)
penanganan proses pelayanan dilakukan oleh petugas yang berwenang dan kompeten,
mampu, terampil dan professional pola pelayanan yang tepat sesuai dengan sifat dan
jenis pelayanan yang bersangkutan dengan pelaksanaannya, (6) biaya atau tarif
yang wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat, (7) pemberian pelayanan
dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan status social dan
merata, (8) terjaminnya kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas
pelayanan dan (9) petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan sopan,
serta berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal. Dari instruksi
Menkes tersebut tampak bahwa orientasi pelayanan kesehatan sekarang ini harus lebih
mengarah kepada pelayanan yang berkualitas. Tantangan utama yang dihadapi
sekarang oleh puskesmas ialah bagaimana memadukan kualitas jasa pelayanan yang
prima dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Memberikan lebih yang
diharapkan oleh pasien merupakan jasa pelayanan kesehatan yang dinilai unggul
atau prima atau sangat baik (Madsen, 1993). Layanan kesehatan yang berkualitas
akan menciptakan layanan yang unggul, dan penyajian layanan yang berkualitas
dan layanan yang unggul keduanya dapat dilakukan secara simultan atau secara
berurutan. Layanan yang prima adalah layanan yang dilakukan puskesmas untuk
menang dalam persaingan (competitive advantage), memuaskan dan memelihara
pelanggannya (Porter,1994)
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Manajemen pemasaran puskesmas yang
berfokus pada pelayanan prima merupakan langkah yang mutlak harus dilakukan
agar masyarakat memberikan 'image' positif pada puskesmas. Puskesmas
sebagai pusat pengembangan, pemberdayaan dan pelayanan kesehatan harus lebih
aktif mencari terobosan dalam rangka memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Tugas
dari manajer baik di Dinkes maupun puskesmas adalah menciptakan strategi
pelayanan prima di puskesmas dalam rangka meningkatkan ’image’ masyarakat
terhadap puskesmas, yang berorientasi pada hasil yang memuaskan pasien. Untuk
itu semua jajaran di Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas harus ’committed’
untuk melaksanakan manajemen pemasaran melalui pelayanan prima di puskesmasnya.
4.2 Saran
Untuk Meningkatkan pelayanan Prima Pada
Puskesmas, Perlu adanya Peningkatan Mutu pelayanan pada masyarakat sehingga
dapat meningkatkan Image masyarakat terhadap puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA
Buchari A, 2005. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa,
Alfabeta, Bandung.
Cooper PD, 1979. Health Care Marketing, ASPEN System Corporations,
Maryland.
Kotler P, 1982. Prentice Hall International Inc, Englewood Cliffs,
New Jersey.
Kotler P and Gary A, 1999. Principles of Marketing,
Prentice Hall International Inc, New Jersey.
Levey S, 1984. Health Care Administrations : A Managerial Perspective,
IB Lippincott Company, Philadelpia.
Lovelock C and Weinberg, 1978. Non Profit Marketing Comes of
Age, Prentice Hall International Inc., New Jersey.
Levitt, 1983. The Marketing Imagination, The Free Press, Collier
Mc Millan. Publ. London.
Madsen GE, 1993. The Essence of Service Exellence is to Delight
the Customer an Exceed His or Her Expectations, October, pp. 40–1.
Porter MP, 1994, Competitive Advantage: Creating and Sustaining
Superior Performance, The Free Press, New York.
Sabarguna BS, 2004. Pemasaran Rumah Sakit. Konsorsium Rumah
Sakit Islam Jateng-DIY, Yogyakarta.
Jomputer - The Casino with All the Fun of it - St. Louis
BalasHapusJomputer The Casino with All 포항 출장샵 the Fun of 출장안마 it 문경 출장안마 In a world of online gambling, 광명 출장샵 casino gaming, and live 군산 출장안마 entertainment, you can play real-time